Menakar Nasib 1,1 Juta Pekerja MBG: Solusi Pengangguran Permanen atau Ketergantungan APBN?

Di tengah lesunya daya beli masyarakat, gelombang PHK yang belum mereda serta terbatasmya lapangan kerja formal yang ada, kebijakan ekonomi pemerintah selalu menjadi magnet perhatian publik.

Dua program besar belakangan ini mendominasi ruang diskusi: Rencana Pembukaan Rekening Bank Massal untuk stimulus tunai dan megaproyek Makan Bergizi Gratis (MBG).

 

Kebijakan Bansos Rekening Masal & MBG
Gambar Ilustrasi Kebijakan Bantuan Tunai Rekening Massal dan MBG

Namun, di balik narasi populis yang diangkat di panggung politik, bagaimana kalkulasi matematis ekonomi dari kedua kebijakan ini? Apakah anggaran ratusan triliun yang digelontorkan sebanding dengan output ekonomi yang dihasilkan, atau justru kita sedang menyaksikan salah sasaran tata kelola yang mahal? Mari kita bedah angkanya secara objektif.

Rekening Massal vs MBG: Mana yang Paling Cepat Dongkrak Daya Beli?

Ketika konsumsi domestik sedang lesu, pilihan kebijakan ekonomi sering kali terjebak dalam dilema klasik: Direct Cash Transfer (Bantuan Tunai) atau In-Kind Transfer (Bantuan Barang/Program).

Pemerintah baru saja mengerucutkan target rencana Pembukaan Rekening Massal yang awalnya dirumorkan menyasar seluruh penduduk, menjadi lebih realistis yaitu sekitar 74 hingga 76 juta warga negara (WNI) berusia 17 tahun ke atas yang belum tersentuh perbankan (unbanked). Melalui jaringan Himbara seperti BRI dan BSI (khusus Aceh), pemerintah mengalokasikan Rp3,8 triliun hingga Rp3,84 triliun untuk memberikan stimulus saldo awal Rp50.000 per rekening secara gratis.

Secara teori makroekonomi, bantuan tunai langsung lewat rekening seperti ini memiliki kecepatan perputaran uang (velocity of money) yang instan. Masyarakat kelas bawah memiliki Marginal Propensity to Consume (kecenderungan mengonsumsi) yang sangat tinggi. Uang Rp50.000 itu hampir pasti langsung dibelanjakan hari itu juga untuk kebutuhan pokok di warung kelontong atau UMKM lokal.

TABEL Perbandingan Indikator Kebijakan : Bantuan Tunai & MBG 

Indikator Perbandingan

Bantuan Tunai via Rekening Massal

Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Pagu Anggaran

Rp3,8 - Rp3,84 Triliun

Rp335 Triliun

Dampak Jangka Pendek

Instan dan Masif. Uang mengalir langsung ke pasar dalam hitungan hari.

Bertahap. Tergantung kecepatan belanja dapur operasional di daerah.

Multiplier Effect

Menyebar secara organik. Warga bebas belanja, namun rentan bocor untuk barang non-pokok.

Sangat terarah. Menyerap produk lokal secara terjadwal dan membuka lapangan kerja.

Dampak Jangka Panjang

Rendah. Dampak ekonomi melandai begitu uang tunai habis dibelanjakan.

Sangat Tinggi. Fokus pada investasi SDM dan kesehatan generasi masa depan.

Tantangan Utama

Risiko rekening pasif (dormant) jika tidak dilanjutkan program bantuan rutin.

Jalur logistik rumit dan beban fiskal berat pada APBN.

 

Kalkulasi Matematis MBG: Mesin Lapangan Kerja yang Sangat Mahal

Salah satu pembelaan terbesar pemerintah terhadap anggaran fantastis MBG sebesar Rp335 Triliun adalah efek sampingnya (by-product) terhadap penciptaan lapangan kerja formal baru. Ekosistem ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) melalui unit lokal bernama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Performa ekosistem ini tercatat mengoperasikan 19.188 unit SPPG di seluruh Indonesia untuk melayani 55,1 juta penerima manfaat, dan dikonfirmasi telah menyerap lebih dari 1,1 juta tenaga kerja. Banyak dari mereka yang semula pekerja informal kini memiliki kejelasan kontrak kerja secara semi-formal menuju formal di bawah payung BGN.

Jika kita hitung efisiensi fiskalnya menggunakan rumus biaya penciptaan lapangan kerja (Cost per Job Created) maka akan ketemu angka sebagai berikut:

 

Biaya per Lapangan Kerja = Rp335 Triliun / 1.100.000 orang = Rp304,5 Juta per Tenaga Kerja per Tahun

 

Apakah angka Rp304,5 juta per satu lapangan kerja ini termasuk kategori bagus atau jelek? Secara matematis ekonomi, angka ini menempatkan MBG sebagai opsi penyerapan tenaga kerja yang sangat mahal dan kurang efisien.

Sebagai pembanding, Sektor Manufaktur/Pabrik Padat Karya biasanya hanya membutuhkan investasi sekitar Rp100 juta - Rp200 juta per tenaga kerja. Sementara Sektor UMKM lewat stimulus Kredit Usaha Rakyat (KUR) sering kali hanya perlu menyuntikkan dana berkisar Rp10 juta - Rp50 juta untuk menghidupkan satu lapangan kerja mandiri di masyarakat.

Kesimpulannya, menjadikan MBG sebagai senjata utama mengatasi pengangguran formal adalah langkah fiskal yang keliru karena ongkosnya terlalu membebani APBN. Penyerapan 1,1 juta pekerja ini harus dipandang murni sebagai bonus operasional, bukan tujuan utama.

Menguji Resailensi Lapangan Kerja MBG: Solusi Stabil atau Rentan Ambruk?

Dengan biaya penciptaan lapangan kerja yang begitu mahal, pertanyaan krusial berikutnya adalah: Seberapa tangguh (resilient) 1,1 juta lapangan kerja baru ini bertahan ke depannya? Jika dibedah secara mendalam, daya tahan lapangan kerja MBG memiliki dua sisi mata uang yang kontradiktif.

Sisi Kokoh: Pasar yang Terkunci (Locked-in Market). Satu hal yang membuat lapangan kerja di unit SPPG ini sangat stabil adalah kepastian pasarnya. Dapur komunal MBG melayani segmen yang pasti: anak-anak sekolah yang selalu ada setiap hari. Selain itu, keharusan SPPG menyerap bahan baku langsung dari petani lokal menciptakan benteng ketahanan ekonomi mikro tingkat desa.

Sisi Rentan: Ketergantungan Mutlak pada APBN & Risiko Operasional. Namun, lapangan kerja ini 100% hidup dari subsidi negara. Jika di masa depan kondisi fiskal memburuk, utang membengkak, atau terjadi suksesi politik yang tidak lagi memprioritaskan program ini, maka pekerja terancam kehilangan pendapatan seketika. BGN sempat menghentikan sementara operasional 4.581 SPPG untuk pembenahan mutu, membuktikan kerentanan operasionalnya.

Bayang-Bayang Pemilu: Infrastruktur Inklusi atau Alat Politik Penguasa?

Mari sedikit bergeser ke rencana kebijakan Pembukaan Rekening Massal. Dimensi kritis yang tidak boleh luput dari perhatian publik adalah potensi risiko fraud (kecurangan) serta manipulasi politik dari ekosistem rekening massal. Mengingat program ini melibatkan integrasi data kependudukan skala raksasa serta kontrol distribusi dana langsung dari pusat, kekhawatiran mengenai netralitas kebijakan APBN menjelang kontestasi politik menjadi sangat beralasan.

Para pengamat kebijakan publik mulai membaca potensi risiko penyalahgunaan sistemik ini:

- Skenario 'Isi Ulang' Tepat Waktu (Timed Injections): Rekening rawan dijadikan pintu masuk bansos lanjutan. Risiko terbesar muncul apabila penguasa melakukan pengisian saldo massal secara intensif pada linimasa krusial menjelang pemilu, menjadikannya instrumen politik uang terselubung (patronage) yang dibiayai legal oleh negara.

- Penyalahgunaan Data untuk Pemetaan Suara: Mengawinkan basis data perbankan Himbara dengan NIK memberikan akses profil ekonomi makro secara presisi. Jika data ini disalahgunakan oleh pihak penguasa, data tersebut rawan dipakai untuk memetakan kantong pemilih dan merancang strategi kampanye berbasis logistik.

- Risiko Rekening Penampung ('Hantu'): Karena dibuka otomatis secara massal, jutaan rekening pasif (dormant) yang tidak aktif dipantau oleh pemilik aslinya sangat rawan disalahgunakan oleh internal maupun sindikat untuk menampung dana ilegal, money laundering, judi online, hingga pendanaan politik gelap.

 

Menjaga Tembok Pertahanan Negara: Peran Vital OJK dan PPATK

Demi memastikan ekosistem keuangan ini berjalan untuk kepentingan murni negara—bukan kepentingan penguasa politik—dua lembaga pengawas keuangan tertinggi wajib mengambil peran garda terdepan:

1. OJK (Otoritas Jasa Keuangan) wajib menerapkan pengawasan ketat terhadap perbankan Himbara guna mencegah mobilisasi pembukaan akun bodong serta memastikan transparansi sistem mitigasi akun dormant agar tidak disalahgunakan sebagai rekening nominee (penampung) dana politik.

2. PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) harus bertindak agresif memantau anomali arus dana (clogging atau spiking transaksi) yang mengalir ke jutaan rekening massal tersebut, terutama pada bulan-bulan mendekati pemilu, untuk memastikan tidak ada dana gelap non-APBN yang menumpang infrastruktur ini.

Tanpa independensi mutlak dan audit ketat dari OJK serta PPATK, program inklusi ini rentan bergeser menjadi senjata canggih penguasa untuk melanggengkan kekuasaan politik dengan APBN.

Mismatch Spasial: Ketika Peta Dapur 'Terlepas' dari Peta Stunting

Kita bahas sedikit lagi MBG sebagai program strategis pencegahan dan penanganan Prevalensi Stunting Nasional.    

- Papua Pegunungan (Darurat Stunting Tinggi): Memiliki angka prevalensi stunting mendekati 40% (salah satu yang tertinggi di Indonesia), namun dalam alokasi ekosistem hanya kebagian 13 unit SPPG.

- Jawa Barat (Prevalensi Stunting Rendah-Sedang): Memiliki angka prevalensi stunting di kisaran 15%, namun justru mendapatkan alokasi 6.357 unit SPPG—tertinggi di Indonesia.

Fakta bahwa Jawa Barat mendapatkan jumlah dapur hampir 500 kali lipat dari wilayah darurat seperti Papua Pegunungan membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur MBG di awal tidak didasarkan pada urgensi klinis stunting, melainkan murni pada kepadatan jumlah populasi anak sekolah.

Ketidaksebangunan ini diperparah oleh kerancuan korelasi umur (age group mismatch). Secara medis, stunting hanya bisa dicegah secara efektif pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)—dari janin hingga anak usia 2 tahun. Mengintervensi anak usia SD hingga SMA dengan makan siang gratis, secara biologis, sudah terlambat.

Langkah 'Cuci Gudang' Pemerintah: Pengakuan atas Evaluasi Tata Kelola

Program unggulan MBG tidak dapat dipungkiri memanglah problematik, hal ini dapat dengan mudah kita lihat dari langkah-langkah perbaikan yang kemudian dilakukan oleh pemerintah, seperti misalnya: 

1. Penutupan Dapur Masif: Resmi menutup secara permanen 833 dapur SPPG yang dinilai bermasalah, tidak disiplin, dan tidak efisien dalam rantai pasok.

2. Pencoretan Sekolah Mandiri: Mengeliminasi 1.653 sekolah swasta internasional dari daftar penerima manfaat karena dinilai sudah mampu secara finansial.

3. Reorientasi Prioritas Fiskal: Menata ulang target dengan fokus mengaktifkan 1.700 SPPG prioritas yang diarahkan langsung ke daerah kritis stunting tinggi di wilayah Indonesia Timur dan kawasan 3T.

 

Catatan Akhir untuk Kebijakan Fiskal Kita

Makan Bergizi Gratis dan Pembukaan Rekening Massal adalah dua ikhtiar politik yang memiliki niat baik. Namun, niat baik saja tidak cukup dalam ruang makroekonomi.

Jika target jangka pendek pemerintah adalah menyelamatkan daya beli yang sedang lesu detik ini juga, maka mengoptimalkan stimulus tunai via rekening massal jauh lebih taktis, murah, dan instan.

Sebaliknya, mempertahankan MBG sebagai program investasi masa depan sah-sah saja dilakukan, asalkan pemerintah berani membenahi mismatch geografi gizi secara total sekaligus memitigasi risiko kerentanan lapangan kerja yang diciptakannya dengan melibatkan pengawasan penuh independen dari OJK dan PPATK.

Tanpa reorientasi data yang presisi, anggaran Rp335 triliun itu dikhawatirkan hanya akan menguap menjadi proyek bagi-bagi makan siang yang mahal, dengan dampak stunting yang minimal.

 

Bagaimana Opini Anda?
Setelah melihat kalkulasi matematis di atas, apakah menurut Anda anggaran Rp335 Triliun untuk MBG ini sudah sepadan dengan 1,1 juta lapangan kerja yang tercipta serta investasi kesehatan anak kita? Ataukah Anda sepakat bahwa stimulus tunai lewat rekening massal jauh lebih mendesak untuk menyelamatkan daya beli pasar saat ini?
Tuliskan pandangan analitis Anda di kolom komentar di bawah! Mari kita berdiskusi secara sehat. 👇

 

Tulis komentar anda

Lebih baru Lebih lama